Sabtu, 07 Maret 2009

Social Marketing sebagai Alat Perubahan Sosial (2)

Penyebutan SM dipakai kali pertama pada sekitar tahun 1971 untuk menjabarkan penggunaan prinsip-prinsip dan teknik-teknik pemasaran untuk mempercepat penerimaan atas ide-ide perubahan perilaku sosial. SM merupakan sebuah disain, implementasi dan kontrol atas program yang ditujukan untuk meningkatkan penerimaan atas ide-ide baru yang biasanya menuntut perubahan di level kognitif, aksi, perilaku dan nilai. Di sini, digunakan konsep-konsep pemasaran seperti segmentasi pasar, riset konsumen, pembuatan konsep, komunikasi, penyediaan fasilitas, insentif dan teori pertukaran untuk mengoptimalkan respon dari kelompok sasaran.

Dalam SM terdapat empat pendekatan utama untuk menghasilkan perubahan sosial, yaitu pendekatan hukum, teknologi, ekonomi dan informasi. Sebagai contoh gerakan memakai helm. Pendekatan hukum menyediakan undang-undang untuk menempatkan orang-orang yang tidak memakai helm sebagai pelanggar hukum. Pendekatan teknologi membantu dengan melakukan inovasi sehingga masyarakat merasa nyaman, tidak terganggu, dan semakin praktis ketika mamakai helm. Pendekatan ekonomi mengarahkan pada kondisi bahwa ketika seseorang tidak memakai helm justru akan mengeluarkan biaya yang lebih tinggi dibanding mereka yang memakai helm. Misalnya dengan membedakan biaya parkir pemakai helm dan bukan pemakai helm. Sedangkan pendekatan informasi memberikan pesan-pesan persuasif yang langsung ditujukan pada pengendara sepeda motor.

Pada awalnya SM didasari oleh pendekatan informasi dalam bentuk yang umum yaitu iklan sosial atau layanan masyarakat. Seperti yang dilakukan di banyak negara, kampanye iklan layanan masyarakat seringkali hanya cukup untuk memberi motivasi agar masyarakat melakukan tindakan yang secara ide terhitung baru. Namun untuk berubahnya sangatlah tidak mencukupi karena sebuah kampanye iklan pada dasarnya merupakan hanya salah satu bagian dari kegiatan marketing. Secara umum kampanye iklan layanan masyarakat mempunyai sedikitnya tiga kelemahan. Pertama, penyusunan pesan seringkali tidak didasari riset yang cukup. Sebagai contoh, kampanye media di negara-negara berkembang yang mendorong masyarakat untuk berdiet, menemui kenyataan bahwa ternyata kelompok sasaran kurang mengetahui makanan yang mana yang sehat dan baik untuk dikonsumsi. Belum lagi ternyata harga-harga makanan yang disarankan terhitung mahal untuk mereka dan bahkan masyarakat yang tinggal di daerah pinggiran tidak bisa menemukan bahan makanan yang dimaksud. Kedua, banyak orang memilih-milih pesan yang akan dipersepsi (selective perception), kemudian muncul adanya distorsi dan akhirnya cepat melupakannya. Komunikasi massa kurang memiliki pengaruh langsung pada perilaku dan pengaruh yang lebih besar justru dipegang oleh para opinion leader. Ketiga, banyak orang tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah menerima pesan. Misalnya, pesan anti rokok : “Merokok menyebabkan kematian”, tidak serta merta membuat perokok mampu menemukan cara yang baik untuk bisa menghentikan kebiasaan merokok.

Ketika kekurangan-kekurangan tersebut disadari, iklan sosial berubah ke arah pendekatan yang lebih luas yang dikenal sebagai social communication. Social communication bergerak lebih jauh dibanding dengan social advertising, dengan melibatkan penggunaan personal selling (agen program) untuk melengkapi beberapa kekurangan tadi. Dan SM melakukan penyempurnaan lebih lanjut dengan mengisi semua celah dengan secara penuh menerapkan aspek-aspek pemasaran ke dalam kegiatan kampanye sosial untuk lebih mengoptimalkan keberhasilan sebuah perubahan sosial. SM setidaknya menambahkan empat elemen penting yang tidak ditemui dalam pendekatan social communication. Empat elemen itu adalah :

Pertama, marketing research digunakan untuk mengetahui lebih detil tentang pasar dan efektifitas dari pendekatan pemasaran yang mungkin dilakukan. Kampanye iklan sosial yang lakukan tanpa riset pemasaran yang dilakukan secara detil dan hati-hati hanya merupakan pemborosan dana besar-besaran. Oleh karena itu, perancang program SM  anti rokok pasti akan mempertimbangkan ukuran pasar rokok, segmen pasar utama dan karakter perilaku masing-masing segmen serta perimbangan cost-benefit dalam mengarah pada segmen-segmen yang berbeda atau merancang kampanye yang khusus untuk masing-masing segmen.

Kedua, product development. Sebagai antisipasi atas masalah yang timbul dalam mengajak orang-orang untuk berhenti merokok, para praktisi periklanan sosial bahkan social communicator menggunakan daya tarik kesehatan, keuntungan finansial (penghematan bila berhenti merokok) atau hal lain yang bisa dikaitkan. Namun pelaku SM, melangkah lebih lanjut untuk mempertimbangkan merancang sebuah produk yang mungkin diproduksi, misalnya buku panduan berhenti merokok yang dirancang oleh dokter atau bahkan rokok rendah nikotin dan tar. Dengan kata lain, apabila mungkin, pelaku SM tidak akan terpaku dengan produk yang telah ada dan mencoba untuk menjualnya (sales approach) namun lebih dari itu, mencari kemungkinan produk terbaik untuk memenuhi kebutuhan (marketing approach).

Ketiga, pemberian insentif. Para praktisi social communication menitikberatkan pada perancangan pesan yang mendramatisir keuntungan atau kerugian suatu perilaku yang dikampanyekan. Sedangkan praktisi SM melangkah lebih lanjut dengan merancang juga pemberian insentif tertentu untuk meningkatkan derakat motivasi. Sebagai contoh, dalam program pemberian imunisasi, masyarakat yang mendatangi titik-titik pelayanan akan dibagikan sebuah cindera mata untuk anak sebagai penarik minat. Cara ini identik dengan cara-cara yang dipakai dalam aktifitas sales promotion.

Keempat, penyediaan fasilitas. Waktu dan tenaga merupakan investasi yang penting bagi setiap orang yang berusaha mengubah perilakunya, oleh karena itu praktisi SM mempertimbangkan cara untuk membuat hal itu semakin mudah. Sebagai contoh, sebuah kelas program bebas rokok harus mudah dijangkau, nyaman dan dipandu secara profesional. Perancang program SM harus selalu memahami bahwa perancangan layanan yang merupakan tindak lanjut dari efek pesan yang disampaikan lewat komunikasi massa sangatlah  penting.   (bersambung)

Social Marketing sebagai Alat Perubahan Sosial (1)

Usaha-usaha untuk mengarahkan keyakinan, sikap, nilai dan perilaku suatu kelompok sasaran mempunyai berbagai sebutan. Kalangan kiri terbiasa dengan menyebut sebagai kegiatan propaganda. Sedangkan para pelaku dan pendukung kegiatan itu memakai istilah pendidikan. Pada dasarnya kegiatan semacam ini sangatlah biasa, dan bisa ditemui di semua negara. Masing-masing mempunyai alasan dan tujuan berbeda sesuai dengan sudut pandang tiap negara. Di negara yang totaliter, hanya satu kelompok yang diijinkan melakukan kegitan penyebaran ide, yaitu pihak penguasa, dengan alasan kepentingan negara. Sehingga hanya ada satu jenis ide yang ditawarkan di pasar ide. Sedangkan di negara lebih terbuka, semua kelompok berhak untuk melakukan hal itu sesuai dengan sudut pandang masing-masing. Dengan demikian terdapat lebih dari satu ide yang ditawarkan di pasar ide.

Para pengusung ide ke pasar disebut dalam banyak nama, propagandist, agitator, pemimpin kharismatik, publicist, lobbyists, agent of change dan lain-lain. Dalam pengertian sempit, tugas mereka adalah membuat dan menyebarkan pesan persuasi. Namun bagaimanapun juga komunikasi yang efektif hanyalah bagian dari keseluruhan kegiatan yang dibutuhkan agar suatu ide bisa diterima pasar. Penerimaan terhadap suatu ide, seperti juga penerimaan terhadap suatu produk/servis apa saja, membutuhkan pemahaman yang mendalam atas kebutuhan (needs), persepsi, preferensi, kelompok referensi dan pola perilaku dari kelompok sasaran. Selain itu, dibutuhkan juga penyusunan beberapa hal berikut : pesan, media, biaya dan fasilitas yang dibutuhkan untuk meningkatkan penerimaan atas ide. Menurut Kotler dalam Frederiksen, Solomon dan Brehony (1984), usaha-usaha ini disebut dengan istilah social marketing (SM). SM menawarkan sebuah sistem konseptual yang efektif untuk memecahkan suatu masalah sosial dengan memberi perubahaan di tingkat ide atau bahkan perilaku pada publik sasaran.

Para commercial marketer yang sejak lama menggunakan konsep marketing untuk meningkatkan penjualan. Mereka juga seringkali harus berfikir keras untuk bis “berkata manis” pada konsumen. Seringkali mereka justru terlihat menipu konsumen. Dan saat ini, mereka berangsur-angsur mengaitkan berbagai produk mereka dengan ide-ide tentang bagaimana masyarakat seharusnya menjalani hidup. Pemasar mobil mengemukakan bahwa mobil keluarga yang dijualnya merupakan perwujudan rasa tanggung jawab suami pada istri dan keluarga, pilihan anak yang paling tepat, serta wujud rasa sosial mereka karena bisa menampung kerabat lain. Sebuah rokok kretek mengungkapkan keutamaan rasa hormat pada orang tua dan komitmen pada kemanusiaan yang dikaitkan dengan merek tersebut. Sedang rokok yang lain menonjolkan rasa persahabatan yang erat dan hangat di tengah keceriaan kehidupan remaja.

Lalu bagaimana dengan ide-ide menjalani hidup yang lebih baik tanpa dikaitkan dengan merek-merek produk atau layanan komersial? Apakah kita bisa memasarkan ide tertib lalu lintas, anti korupsi, anti pornografi, peduli lingkungan sebagai mana adanya ide tersebut? Mungkin SM bisa memberi alternatif untuk mengarahkan perubahan sosial ke arah yang diinginkan. (bersambung)

TVC PKS : Iklan cerdas sekaligus berbahaya

Iklan TV (TV Commercial) terbaru Partai Keadilan Sejahtera sangat cerdas dan menarik. Untuk melebarkan segmen, iklan ini menggunakan representasi segmen yang dituju dengan dibarengi menampilkan singkatan PKS dengan berbagai macam kepanjangan, sesuai dengan segemen sasaran. Teknik yang pertama biasa saja. Namun penggunaan teknik menampilkan singkatan yang bermacam-macam sesuai dengan kepribadian, karakter serta concern segmen sasaran, cerdas dan sangat menarik. Segmen sasaran dengan mudah mengidentifikasi dirinya dengan salah satu versi kepanjangan dari PKS. 

Iklan jenis ini secara sangat cerdas menuntun segmen sasaran untuk menyesuaikan kepanjangan yang mana yang sesuai dengan dirinya. Penonton iklan akan merasa bahwa ternyata PKS tidak hanya kependekan dari Partai Keadilan Sejahtera yang sudah terbentuk citra tertentu di masyarakat (bahkan di dalam kepalanya) seperti yang salama ini, namun juga bisa seperti ini (beberapa versi kepanjangannya). 

Sisi bahayanya adalah ketika proses psikologis ini tidak hanya berhenti ketika penonton menemukan kepanjangan singkatan PKS yang paling sesuai dengan dirinya, namun dia tetap terus merangkai-rangkai kata-kata yang sesuai dengan PKS. Penonton tidak lagi peduli apakah kepanjangan itu relevan dengan citra yang diinginkan PKS. Biasanya justru kepanjangan yang lucu atau aneh lah yang seringkali menjadi arah para penonton ini. Mengapa kegiatan ini menarik bagi penonton? Secara kultural, orang Indonesia suka memparodikan sesuatu yang dianggapnya tidak sesuai dengan dirinya, namun cukup kemampuan (power) untuk mengekspresikannya. Kultur itu oleh masyarakat diwujudkan dalam parodi yang banyak muncul di media-media. Pada jaman Orba, media takut memuat parodi-parodi semacam ini, namun biasanya muncul di pagelaran teater, baik komunitas, kampus maupun profesional. 

Selain itu, iklan versi ini akan menjadi makanan empuk bagi para pesaing yang dengan leluasa memilih kepanjangan dari PKS dengan kata-kata yang biasanya bermakna buruk dan sarkastik. Pihak-pihak ini akan memiliki pembenaran, karena akan berdalih PKS bukan tentu semata-mata mengarah ke Partai Keadilan Sejahtera, tapi juga ada yang lain sesuai dengan iklannya. Banyak alasan dan dalih untuk hal ini, karena dasarnya adalah rasa tidak suka. 

Simpatisan yang sejati tentu saja tidak akan terpengaruh dengan kepanjangan versi apapun, baik yang dibuat oleh PKS atau pihak lain. Namun iklan ini telah membuka peluang bagi pihak luar yang bermaksud buruk untuk merusak citra PKS dengan kepanjangan yang tidak pada tempatnya. Iklan yang cerdas sekaligus berbahaya...

Minggu, 22 Februari 2009

Branding di Era 2.0 : Makin Pusing atau Makin Gampang?

Era 2.0 merujuk pada teknologi Web 2.0 (selanjut disebut 2.0 aja, capek ngetik) yang memiliki berbagai kelebihan dibanding generasi sebelumnya. 2.0 ini mampu melayani komunikasi antar user secara interaktif serta pertukaran informasi secara aman, selain itu juga memungkinkan berbagai sistem yang berbeda berjalan bersama. Perkembangan media internet ini demikian luar biasa pengaruhnya pada perilaku konsumen. Bayangkan saja, jutaan konsumen online dan tenggelam dalam interconected society yang world wide, serta interactive. 

Mari kita amati Facebook, whoaaaa.... setiap orang mengupdate statusnya tiap ia ingin melakukannya. Inne is waiting for someone loveable.... 2 minutes ago. Nah lo. Jeffri is bingung banget mana yang harus di pilih....3 hours ago. Lalu dengan jelas semua temannya bisa melihat siapa dia, apa saja kegiatannya, dengan siapa saja dia berteman dsb, dsb... Consumer insight? Ya, mereka sudah menceritakan tanpa ditanya. Narsis? Apa salahnya.

Lalu ada apa dengan mereka dan platform web 2.0? Perkembangan terakhir ini layak mendapat perhatian rekan-rekan pemasar dan pemerhati, betapa hubungan dengan konsumen bisa lebih dekat dan customize. Komunikasi massa yang massive, arogan karena tidak memberikan ruang dialog, menyamaratakan semua konsumen, hanya menyapa mereka yang termasuk dalam golongan terbesar dan meninggalkan minoritas atau varian. Konsumen menjadi sangat ekspersif, coba saja gunakan salah satu social network web dengan tidak selayaknya, mereka, konsumen pasti akan mengutuk, menyumpahi brand anda. Dan konsumen lain, akan ikut tahu tentang hal itu, lalu semakin banyak yang tahu, semakin banyak yang mengutuk.... hal ini hanya terjadi pada iklan paling keterlaluan di tv. 

Sisi menariknya adalah apabila tone and manner komunikasi ditepati, 2.0 adalah peta harta karun, karena menuntun pemasar ke pada konsumen dengan efektif dan efisien. Tertarik? Si 2.0 sudah merambah hp konsumen anda... kapan hp anda berdering membawa berita bahwa brand anda jadi Top Brand 2009?

Jumat, 20 Februari 2009

Caleg Vs Pembalut Wanita

Seorang wanita meninggalkan meja kerja dan laptop yang masih menyala, menyambar tas dan menghilang di balik dinding. Pulang? Meeting? Membolos? Tidak, dia menuju toilet untuk mengganti pembalut wanita. Dia sedang datang bulan. Mengapa saya tidak menggunakan kata 'maaf' ketika menyebutkan situasi ini seperti kebanyakan orang? Saya rasa tidak perlu karena kita bicara tentang hal-hal yang alami dan berkaitan dengan bisnis. Kembali ke wanita tadi, ia menyiapkan pembalut wanita di masa datang bulan. Kemanapun dia pergi dalam waktu yang diperkirakan agak lama, pasti akan membawa serta spare. Masa datang bulan wanita tentu tidak setiap saat. Tetapi sebulan sekali dalam rentang 5-10 hari. Konsumen wanita akan sangat aware dengan berbagai brand pembalut wanita, dan mereka memiliki brand favorit. Mereka begitu dekat dengan brand tersebut. Di sisi lain setiap brand berusaha menjadi semakin dekat dari waktu ke waktu dengan para konsumennya. Berbagai pesan lewat iklan atau lainnya, activations dan lain-lain. Para wanita menyadari bahwa mereka membutuhkan produk tersebut dan  sebaliknnya produk tersebut jarang mengecewakan. Kalau ada konsumen yang kecewa, biasanya keluhan itu masuk di surat pembaca, bukan di halaman berita.

Lalu bagaimana kedekatan Caleg dengan konstituennya? Tentu saja tidak sedekat pembalut wanita dengan wanita. Mari kita diskusikan situasinya. Seorang Calegtidak bisa berpromosi sepanjang tahun meski memiliki uang berlimpah. Ada masa kampanye yang membatasi. Di sisi lain, konstituen tidak merasa perlu memilih atau bila tidak memilihpun tidak beresiko. Repotnya, untuk memilih pun ada prosedur yang harus dipenuhi sejak beberapa waktu sebelum 'transaksi' berlangsung. Sedangkan jika ada penyelewengan seorang legestatif, bila dia incumbent, pasti sudah merebak di halaman-halaman media massa. Apalagi ditambah dengan surat terbuka kekecewaan oleh publik. Selain itu yang memperparah keadaan, kampanye Caleg sangat jarang diotaki oleh para pemasar tangguh. Biasanya hanya orang-orang terdekat dan kerabat, sehingga 80% pesan iklan Caleg terkesan kampungan (mengenai hal ini silahkan browse di internet).

Well, itulah kondisinya. Tulisan ini bukan ingin menyamakan Caleg dengan pembalut wanita, tapi justru keduanya benar-benar berbeda... namun ada persamaannya, yaitu sama-sama bertujuan mendapatkan pendukung/konsumen yang loyal.  Tantangan bagi caleg adalah bagaimana mereka menjadi dekat dengan konstituen seperti halnya pembalut wanita dengan para wanita. Dibutuhkan, dipercaya, diyakini, dan akhirnya mendapatkan loyalitas dari konstituen seperti halnya perasaan wanita pada pembalut wanita... Akhir kata, pembaca harus ingat benar bahwa Caleg bukan pembalut wanita, demikian juga sebaliknya. 


In Store Promo : Medan Perang Sebenarnya

Dhea sedang pulang kantor, lalu menuju ke hypermarket, di dalam tas sudah siap sehelai sobekan notes berisi shopping list yang harus dieksekusi. Mulai dari susu balita, makanan ringan, syrup, tissue, margarine, selai dan mie instant untuk persediaan di saat 'mendesak'. 

Masuk wilayah toko raksasa itu, seorang gadis menyapa dan menawarkan sebuah selai yang menarik warnanya, mereknya cukup dikenal meski bukan yang direncanakan oleh Dhea. Tapi ia berhenti sejenak ketika melihat potongan harga yang lumayan, 40% off jika membeli paket berisi 4 kemasan regular. Hmm... apa salahnya beli, toh tidak terlalu mahal. Dua paket selai berpindah tangan sebagai imbangan beberapa lembar uang kertas yang diangsurkan ibu satu anak ini. Dhea melangkah melewati pintu otomatis setelah menitipkan tas dan berjalan menyusuri lorong sambil mendorong trolly. Kali ini menuju ke shelf susu. Tapi sayang, susu yang dicari tidak ada di tempat. Dhea coba mencari di atas atau bawah, siapa tahu..... tak lama seorang gadis berpakaian putih dengan penutup kepala berwarna sama, dan berwajah cerah menyapa. Ia menanyakan apa yang sedang dicari Dhea, lalu ia ikut mencari... tidak ada, lalu gadis itu menawarkan produk pengganti. Dhea menolak, tapi gadis itu tetap menceritakan hal-hal yang akhirnya membuat Dhea berfikir sejenak, banyak yang diutarakan gadis di depannya benar... Oke lah, dia memasukkan sekaleng susu, yang beda dari biasanya. Toh mereknya juga terkenal, cuma enggak pernah coba aja.. begitu pikir Dhea... lalu ia meneruskan berjalan menyusuri lorong menuju ke shelf mie instan....

Tahukah Anda, apa yang dialami Dhea sebelum masuk ke toko raksasa itu? Dhea terbiasa dengan banyak merek yang secara regular dibeli dan dikonsumsi. Lalu mulai tadi malam, ibu muda itu menekuni sinetron yang disisipi oleh iklan susu A dan selai B, dia market leader, sekaligus brand yang biasa dikonsumsi Dhea. Sampai ngantuk iklan brand tadi selalu rajin menyapa. Malam berlalu, sebelum berangkat kantor, Dhea disapa kembali iklan brand yang sama di acara berita pagi. Sekilas membalik-balik harian pagi, iklan brand yang sama ramah menyapa di halaman 6. Ready! Mobil meluncur menuju kantor, radio on, iklan brand tadi meningkahi dua penyiar yang gila-gilaan mengumbar celoteh gokil. Sampai kantor, terbenam dalam angka-angka dan deretan pajak perusahaan. Break! Lunch... berita siang tentang dukun cilik di Jombang, break juga.. iklan brand tadi... balik lagi berita. Break is over... back to work. Teng! Go! Pulang, meluncur menuju hypermarket. Nah, selanjutnya adalah apa yang anda baca di atas.

So... hati-hati beriklan, jika tanpa memiliki jurus penyelesaian di medan perang sebenarnya, yaitu di outlet. Hitung saja berapa duit iklan ditebar untuk memastikan Dhea mengingat brand tadi. Tapi bujet segunung itu dengan mudah dirontokkan oleh gadis berwajah cerah yang mengungkapkan 'kebenaran' tentang produknya. Fieew... Anda Marcomm Manager? Hati-hati di rapat evaluasi bulan depan....

Sabtu, 07 Februari 2009

ReBranding : Jalan Bercabang

Seorang teman beberapa hari yang lalu ganti nama, cuma nama depan. Wih repotnya, kabar-kabar ke sana kemari. Komen berluncuran, dari yang bilang namanya pas, namanya kurang pas (mau bilang jelek, sungkan kali ya) sisanya menanggapi biasa aja... nah kenapa kok hal ini tidak pernah diributkan pas seorang anak bayi baru diberi nama?
Ya, bener! Namanya bayi kan belum ketauan pas atau gak nama itu, paling-paling komentarnya : wah kayak anak bule aja... atau artinya apa sih? 
Beda dengan orang yang ganti nama. Dia orang, kan udah punya track record... pernah nyolong, sering ngutil atau udah naik haji, dermawan dan lain-lain. Hal inilah yang menjadi penting diperhatikan ketika sebuah brand akan melakukan reBranding. 
Harus menjelaskan kembali semua dari awal pada stakeholders, terutama adalah potential dan existing consumer, bahwa saya dulu adalah X yang sekarang Y, saya sekarang gini-gitu dan lain-lain. Check the relevant case, IBM jadi Lenovo... dari made in USA jadi made in China, tapi tetep kuat, kokoh, reliable dan high performance.... 
Di akhir omongan, berapa duit ya buat reBranding? Banyak, tapi bisa semakin banyak jika tidak diurus dengan baik...
Kebayang gak temen saya tadi yang ternyata SMS atau email dikirim ke temen2 ternyata mencantumkan nama yang salah...

Kamis, 05 Februari 2009

Iklan Testemoni : Diantara Kejujuran dan Kebohongan Publik

Iklan testemoni dipakai banyak produsen, yang masih gress dan memiliki kasus besar sebelumnya adalah Oreo. Oreo dinyatakan mengandung melamin yang membahayakan kesehatan manusia, terutama anak-anak. Karena 4 minggu sebelum pernyataan itu keluar dari pemerintah, sejumlah 40 bayi di China (bahan2 Oreo dari China) dinyatakan terkena gagal ginjal karena susu yang mereka konsumsi mengandung melamin.
Nah, Oreo sekarang sedang beriklan dengan model testemoni, Ferdi Hasan bintangnya. Ferdi menyatakan bahwa Oreo bener2 aman, bahkan kedua buah hatinya pun diperbolehkan makan Oreo, karena sekarang Oreo memprosesnya secara seksama dan dipastikan aman.
Dari sini bisa ditarik kesimpulan, dulu Oreo asal-asalan, ceroboh dan tidak aman. Baru sekarang mereka memperbaiki diri setelah pasti sudah merusak ginjal (dalam level apapun) rakyat Indonesia... Lanjutannya, Ferdi sendiri dibayar untuk memberi testimoni keamanan Oreo, kalo ada kesalahan produksi dan lain2 dan produk tidak aman, apakah Ferdi bisa bebas dari dosa nyuruh orang makan makanan tidak aman... masalah hukum mungkin bisa dihadapi dengan Lawyer jagoan. Kalo Tuhan, gimana ya?
Masih banyak tuh artis yang mempertaruhkan nama dan kejujurannya pada sebuah merek yang membayarnya...